Jumat, 01 Mei 2020

Falsafah Alam : Gareng dadi Blogger

Blogger Blog, Blogger Gareng Blogger Blog , berbagi wawasan dalam dunia aktivitas blogging dengan judul " Gareng dari Blogger " (Gareng menjadi blogger). Gareng dalam tradisi Jawa adalah salah seorang dari lima orang punakawan (abdi dalem) satria Pandawa yang bernama Arjuna. Tokoh Gareng ini secara fisik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Mata juling : artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan, karena pandangan adalah salah satu unsur penting dalam mempengaruhi pola pikir seseorang. Persepsi yang terbentuk dari pandangan akan berpengaruh pada pola pikir, dan pola pikir itu yang kemudian mempengaruhi kesadaran.  Selanjutnya kesadaran ini akan mempengaruhi tindakan.

Tangan ceko (melengkung) : artinya tidak mau mengambil/merampas hak orang lain. Berpuas diri dengan apa yang dimilki, selalu bersyukur itulah kunci kepuasan diri.

Sikil gejik (seperti pincang) : artinya selalu penuh kewaspadaan dalam segala perilaku. Dan hanya berpergian jika ada sesuatu yang penting. Bisa juga diartikan melakukan suatu tindakan jika dirasa benar dan tepat.

Falsafah yang dipersonifikasikan dengan tokoh Gareng ini, bila kita terapkan dalam setiap aktivitas blogging yang kita lakukan, bukan tidak mungkin akan menghasilkan sesuatu yang berharga buat kita di masa depan. Bisa berupa keuntungan materiil maupun non materiil yang berkaitan dengan reputasi blog maupun pemiliknya.

Salah satu faktor kualitas sebuah blog adalah berkaitan dengan masalah reputasi (blog maupun blogger yang memilikinya). Masalah mempertahankan dan atau meningkatkan reputasi tersebut, sekali lagi kita dapat mencontoh falsafah "Gareng dadi Blogger" ini. Berikut ini uraiannya (berdasarkan pendapat pribadi penulis tentunya)  :

a. Mata Juling.

Tokoh Gareng ini dilambangkan memiliki mata juling, yang dapat kita artikan sebagai sebuah perilaku non kompromistis terhadap pandangan-pandangan yang mengundang kejahatan atau hal-hal yang negatif sifatnya. Gareng dalam hal ini selalu tidak ingin melihat hal-hal yang demikian itu.

Dalam dunia blogging, seringkali kita menemukan berbagai bentuk artikel, iklan maupun layanan (jasa) yang menggoda kita untuk menempuh jalan-jalan sesat menggapai sukses blogging secara instan. Lihat saja, berapa banyak layanan SEO Online maupun OffLine yang menjanjikan keberhasilan di dunia blogging. Lebih jauh lagi, berapa banyak situs-situs yang menawarkan jasa backlink berkualitas dengan pagerank tinggi yang dapat diraih dalam waktu relatif singkat. Padahal Google (search engine) dalam ini telah banyak memberikan peringatan yang jelas, bahkan ia telah menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung secara gratis agar seseorang mampu meraih suksesnya secara natural dan alami.

Dasarnya juga manusia, dalam konteks tertentu kita akan merasa tergoda untuk ikut melakukan praktek-praktek blogging yang terlarang itu, karena melihat banyaknya blogger-blogger yang sukses dengan cara-cara yang demikian. Namun bila kita berpegang teguh pada falsafah "Mata Juling" ini, maka sekalipun melihat, kita akan mampu membatasi diri untuk tidak ikut mengimplementasikannya dalam aktivitas blogging. Artinya, kita tidak ambil pusing dengan blogger-blogger lain yang mempraktekkan cara-cara negatif demi mengembangkan situs atau blog miliknya. Demikianlah falsafah "Mata Juling" ini dapat kita artikan dengan "Melihat bukan berarti ikut mempraktekkan apa yang dilihat".

b. Tangan ceko (melingkar).

Tangan ceko ini diartikan dengan tidak mau mengambil milik orang lain, dalam konteks aktivitas blogging, pola ambil-mengambil artikel blogger-blogger lain kadang kala merupakan sebuah kebiasaan yang sulit diubah. Banyak blogger yang secara mentah-mentah mengcopy-paste artikel milik blogger lain (tanpa memberikan backlink yang memadai) dan mengaku seolah-olah artikel tersebut adalah buah tangannya sendiri, dan kemudian dengan bangganya ia melakukan proses-proses lanjutan dalam bentuk promosi artikel untuk mendatangkan visitor blog.

Dengan mendasarkan diri pada falsafah "Tangan Ceko" ini, kita senantiasa berusaha untuk menghindari praktek-praktek copy paste yang tidak bertanggung jawab. Seandainya terpaksa kita harus mengcopy artikel blogger lain, maka dengan segala kerendahan hati kita wajib menyertakan link artikel asal atau aslinya. Di samping itu kita memiliki kewajiban untuk mengubah artikel tersebut sedemikian rupa sehingga menjadi tidak sama persis dengan yang aslinya.

c. Sikil gejik (seperti pincang).

Sikil gejik ini mengartikan pengambilan tindakan jika dirasa benar dan tepat, atau merupakan sebuah perilaku pribadi yang selalu waspada. Dalam dunia blogging, kita harus selalu mempertahankan kewaspadaan ini baik berkaitan dengan search engine maupun berkaitan dengan perilaku pengunjung blog yang meninggalkan komentar-komentarnya.

Dewasa ini search engine telah memiliki kemampuan yang demikian besarnya untuk menentukan kualitas sebuah halaman postingan blog sampai kepada komentar-komentar pengunjung yang ada atau terintegrasi di dalamnya. Google akan menurunkan kualitas sebuah halaman postingan blog manakala postingan tersebut memiliki sejumlah komentar yang sama sekali tidak memiliki relevansi dengan topik bahasan. Oleh karenanya, sebagai seorang blogger, kita wajib menerapkan falsafah "Sikil Gejik" dalam bertindak untuk menerbitkan atau menghapus komentar-komentar pengunjung yang masuk.

Kita harus berani menolak komentar-komentar yang tidak memiliki relevansi dengan topik bahasan postingan yang bersangkutan, semata-mata untuk mempertahankan kualitas postingan blog. Dalam kasus seperti ini selalu kita akan menemukan model-model komentar pengunjung yang hanya berisi tulisan : artikelnya menarik gan ...., nice post ...., ditunggu artikel berikutnya .... dan lain-lain yang mirip dengan hal tersebut. Model-model komentar yang demikian itu tentu saja tidak memiliki relevansi apapun terhadap sebuah topik postingan blog apapun itu jenisnya.

Akhir kata, terapkanlah falsafah Gareng dadi Blogger ini dalam aktivitas blogging yang kita lakukan demi keberhasilan dan keselamatan kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Write komentar